BALIKPAPAN, KOMPAS.com — Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh mengatakan, untuk meningkatkan pendapatan per kapita, pemerintah memiliki target menciptakan populasi lulusan mahasiswa teknik dan sains hingga 50.000 orang pada tahun 2015.
"Jumlah itu setara dengan 15 persen dari jumlah mahasiswa di Indonesia yang mencapai 5,2 juta orang. Saat ini baru ada 11 persen mahasiswa teknik atau lebih kurang 30.000 mahasiswa di berbagai perguruan tinggi di Indonesia," ujarnya seusai peresmian Politeknik Balikpapan menjadi Politeknik Negeri Balikpapan di Balikpapan, Kalimantan Timur, Jumat (6/1/2012).
Menurut M Nuh, peningkatan jumlah lulusan mahasiswa teknik dinilai berbanding lurus dengan peningkatan pendapatan per kapita penduduk. Mendikbud mengatakan, saat ini pendapatan per kapita penduduk Indonesia adalah 3.000 dollar AS. Dengan semakin banyaknya lulusan perguruan tinggi pada 2015, diharapkan pendapatan per kapita penduduk bisa mencapai 14.000 dollar AS.
"Semakin banyak penduduk yang mengenyam pendidikan tinggi, pendapatan per kapita negara makin tinggi juga. Pendidikan tinggi yang menyumbang pendapatan domestik bruto tinggi adalah pendidikan teknik, sains, termasuk juga pertanian," ujarnya.
Ia mencontohkan seorang arsitek yang bekerja sendiri berhak atas 20 persen dari nilai proyek yang didapatnya. Kalau nilai proyeknya membangun rumah senilai Rp 300 juta, maka Rp 60 juta adalah penghasilan yang sah milik sang arsitek.
Pemerintah akan menempuh tiga cara untuk menggandakan jumlah mahasiswa yang belajar bidang-bidang tersebut. Caranya dengan melakukan ekspansi, yaitu memperluas kemampuan penerimaan mahasiswa dan meluluskan sarjana bagi kampus yang memiliki fakultas atau jurusan teknik, sains, dan pertanian ataupun memang mengkhususkan diri di bidang tersebut. Pemerintah juga melakukan konversi perguruan tinggi swasta menjadi perguruan tinggi negeri dengan syarat-syarat tertentu.
Kemdikbud juga akan mendorong dibukanya perguruan tinggi baru. Khusus di Balikpapan, juga akan dibangun Institut Teknologi Kalimantan (ITK). "Tapi kami akui cukup sulit untuk meningkatkan kapasitas. ITB (Bandung) saja hanya menerima sekitar 6.000 mahasiswa per tahun, kemudian ITS (Surabaya) 4.000 orang," kata M Nuh.